Penantian 2

Nisa melangkah bolak-balik seperti setrikaan di kamarnya. Nisa sangat bingung, "Haruskah aku menemuinya?" pikirnya dalam hati.

Jam dindingnya sudah menunjukan pukul 16.00. Selama berjam-jam Nisa merenung dan akhirnya Nisa memutuskan untuk menemui Reno tanpa sepengetahuan Ardi. Untungnya saat itu Nisa tidak punya janji dengan Ardi karena Ardi sedang berada di Bogor menengok neneknya yang sakit.

Setibanya di Cafe, Nisa menuju meja nomor 4 karena kata Reno dia sudah memesan meja nomor 4. Nisa melihat sesosok laki-laki berkaos biru dengan celana blue jins. Laki-laki itu sudah tak asing lagi baginya. Gayanya tetap sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Laki-laki itu melihat ke arahnya dan tersenyum.

"Silahkan duduk Nis."

"Makasih, maaf aku terlambat."

"Tidak apa-apa, apa kabar Nis? long time no see."

"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja." 

Reno telah memesan minuman Mocacino untuk Nisa. Dia masih ingat minuman kesukaan Nisa. Mereka bercakap-cakap tentang banyak hal. Setelah keadaan mulai hangat, Reno pun menjelaskan alasan dia menduakan Nisa saat itu. Reno terpaksa memilih Rasti, wanita pilihan ibunya. Waktu itu ibu Reno sakit kanker stadium 4, dokter memperkirakan umurnya tak akan panjang. Mau tidak mau Reno terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk mendekati Rasti. Sejak awal ibunya memang tidak menyetujui Reno menjalin hubungan dengan Nisa hanya karena Nisa berasal dari keluarga yang sederhana. Sedangkan keluarga Reno adalah turunan ningrat. Sebenarnya Reno sama sekali tidak mencintai Rasti. Tapi, Reno ingin sekali melihat ibunya bahagia di masa-masa kritisnya.

Namun ternyata ibunya telah membohongi Reno, ibunya tidak sakit. Ibunya hanya berpura-pura sakit agar Reno menuruti keinginannya. Reno mengetahui hal itu ketika dia tanpa sengaja mendengar percakapan ibunya dengan dokter gadungan. Tentu saja Reno sangat marah mendengar hal itu. Reno sempat drop saat mengetahui hal itu. Ibunya bingung melihat Reno yang berbaring lemas dan terus mengiggau memanggil-mangil nama Nisa. Ibunya ingin melihat Reno, anak semata wayangnya bahagia. Maka dari itu, Ibunya berjanji jika Reno sehat dia akan merestui hubungannya dengan Nisa. Kini ibunya sadar bahwa Reno lebih bahagia jika bersama Nisa dan kebahagiaan tidak dapat dibeli oleh materi.

Reno meminta Nisa untuk kembali menemani hidupnya. Reno sangat menyayangi Nisa. Air mata Nisa meleleh saat mendengar cerita Reno. Ada penyesalan dalam hatinya, kenapa dia tidak mau mencoba untuk bersabar menunggu Reno. Kini dia sudah mempunyai Ardi. Ardi sudah banyak berkorban untuknya. Kenapa Reno baru datang saat ia sedang menata kebahagiaan bersama Ardi.

"Kenapa kamu baru cerita sekarang Ren?kenapa kamu ngga jujur dari awal?"

"Aku takut kamu sedih."

"Tapi, aku lebih sedih kalau kamu bohong."

"Maafkan aku Nisa, lalu bagaimana mengenai tawaranku?"

"Maaf Ren aku paling ngga suka dibohongi. Seandainya saat itu kamu jujur mungkin aku tak akan meninggalkanmu. Kamu ngga tau kan gimana sakitnya aku saat itu?Sekarang semudah itukah kamu datang dan memintaku untuk kembali?"

"Aku tau aku salah, tapi aku tak mau menyakitimu."

"Ren, lebih baik jujur walaupun itu pahit. Maaf Ren, aku sudah punya laki-laki yang bisa menyangiku apa adanya, bahkan keluarganya pun menerimaku dengan baik."

"Maksudmu kamu sudah punya kekasih?" Tanya Reno, bingung.

"Iya, bahkan minggu depan dia akan datang kerumahku bersama keluarganya untuk melamarku." 

Reno kaget mendengar jawaban Nisa. Dia menyesal tidak jujur dari awal kepada Nisa. Hatinya merasa ditusuk-tusuk. Dia pikir Nisa akan setia menantinya, tapi ternyata ketidakpeduliaan Reno terhadap Nisa malah membuat Nisa jatuh hati kepada orang lain. Reno berusaha untuk tegar menghadapi semua ini.

Nisa lebih memilih tetap bersama Ardi. Nisa sadar Ardi lebih baik dari Reno. Ardi mampu mebimbing Nisa menjadi wanita yang lebih dewasa dan bijak. Baginya yang namanya kebohongan sekecil apa pun tetaplah bohong.




- The End -







Penantian

Pandangannya tak lepas dari secarik foto ditangannya. Dia teringat sosok pria yang pernah mengisi hari-harinya. Pria yang pernah mengisi hatinya selama 3 tahun. Tapi, kini pria itu berpaling ke lain hati. Perasaan yang dijaga selama 3 tahun ini, musnah begitu saja gara-gara kehadiran seorang wanita. Dia tak menyangka bahwa laki-laki yang dicintainya tega mengkhianati cintanya. Padahal yang dia kenal selama ini, Reno adalah sosok laki-laki yang baik dan begitu menyayanginya. Entah kenapa akhir-akhir ini sikapnya berubah menjadi cuek, dingin, tak seperti biasanya. Lama-lama Nisa tahu penyebab perubahan Reno. Rasti, iya dialah wanita yang menyebabkan Reno berubah.

Saat itu Nisa pergi ke sebuah Mall, tak sengaja dia melihat Reno sedang menemani seorang wanita berambut panjang, berparas cantik. Hatinya hancur berkeping-keping ketika ia melihat Reno pergi bersama wanita lain. Hatinya merasa teriris saat dia membayangkan hal itu. Tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipinya. Ketika dia mengusap air matanya, sesosok wanita datang membuyarkan lamunannya.

"Kamu nangis Nis? Ini foto Reno kan? Masih kamu simpan?", tanya Fika sambil menarik foto dari tangan Nisa.
"Eh, iya Fik. Aku merindukannya." 
"Ya ampun Nis, cowo kaya gini masih kamu kangenin? Nisa, kamu tuh amnesia ya, dia itu sering banget nyakitin kamu. Kalau dia sayang sama kamu, dia tuh bakal ngehargain kamu, ga mungkin selingkuh!!"
"Aku tahu Fik, tapi ini masalah perasaan. Hati ngga bisa boong." Air matanya semakin deras membanjiri pipinya.
"Nis, tapi kamu harus pake logikamu. Masih banyak cowo yang lebih baik dari dia." Ucap Fika sambil menyodorkan tisue.
Nisa hanya diam tanpa dan mulai mengalihkan pembicaraan. "Sudah waktunya masuk kelas, ayo Fik nanti keburu Pak Bambang masuk. Kamu tahu kan Pak Bambang itu dosen kita yang super galak, telat satu menit aja dijamin kita ga akan bisa mengikuti mata kuliahnya."
Fika sepertinya sangat mengerti perasaan Nisa yang masih belum bisa melupakan Reno. Fika pun tidak memperpanjang permasalahan. Fika mengiyakan ajakan Nisa. Mereka bergegas keluar kantin menuju kelas.

***
Hatinya  berdetak kencang saat ia berpapasan dengan wanita cantik yang disukainya selama bertahun-tahun. Mereka memang saling kenal karena mereka satu fakultas di sebuah perguruan tinggi ternama di kota Bandung. Sejak ia tahu bahwa wanita itu sudah putus dengan kekasihnya, dia sangat senang. Memang tak seharusnya dia senang, tapi dia merasa dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan hati wanita itu. Dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada wanita yang bernama Nisa. 

Sepulang kuliah, dia memberanikan diri untuk mengajak Nisa pulang bareng. Belum apa-apa dia sudah nervous, detak jantungnya semakin kencang, keringat dingin bercucuran. Wajar saja karena ini adalah pertama kalinya dia mengajak Nisa untuk pulang bersamanya. Selama ini dia tidak pernah menyapa Nisa duluan. Akhirnya dia pun mencoba mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.

"Pulang bareng yuk Nis .." ajak Ardi dengan perasaan canggung. 
"Maaf Di, aku pulang bareng sama Fika." Ucapnya sambil tersenyum.
"Eh, kamu pulang duluan aja sama Ardi. Aku ada urusan, jadi aku ga bisa pulang bareng kamu." Samber Fika seolah-olah sengaja ingin menyatukan mereka berdua.
Fika memang sudah tahu bahwa Ardi menyukai Nisa sejak lama. Karena Ardi sering sekali menceritakan soal perasaannya pada Fika. Dia sempat meminta Fika untuk menjadi mak comblang. Tapi, baru kali ini Fika berani menjadi comblang mereka. Waktu itu Nisa masih menjalin hubungan dengan Reno, makanya dia tidak berani menerima permintaan Ardi. Ardi pun sangat paham akan hal ini.

Akhirnya Nisa pun pulang bersama Ardi. Sepanjang jalan mereka banyak bercerita. Terutama Ardi yang terlihat bahagia karena baru pertama kali ini dia bisa berada dekat dengan Nisa. Sepanjang jalan Nisa hanya menjadi pendengar setia, terkadang dia menjawab hanya dengan sekedar kata "Iya" dan "Tidak". 
Ardi tahu bahwa Nisa belum bisa melupakan Reno. Tapi, dia akan berusaha agar bisa menggantikan posisi Reno di hatinya. Dia akan berusaha untuk mengambil hati Nisa.

Tepat di lampu merah, motor Ardi berdampingan dengan motor Reno yang sedang membonceng seorang wanita cantik. Tak sengaja Nisa melihatnya, dan hatinya merasa sangat perih. Reno melihatnya, tapi segera memalingkan muka. Reno seperti sengaja memanas-manasi Nisa dengan memegang tangan wanita yang diboncengnya.

Ardi sepertinya tahu bahwa Nisa tak kuat melihat Reno membonceng wanita lain. Dia pun mencoba mengalihkan pandangan Nisa dengan menunjuk polisi berperut buncit. "Nis, liat deh polisi itu kayanya kalau perutnya ditusuk pake jarum pasti meledak."
"Wuss, kamu di masa perut pak polisi disamain sama balon gas." Ujar Nisa sambil tertawa.

Ardi sangat senang bisa melihat Nisa tertawa. Dia berhasil mengalihkan pandangan Nisa. Lampu hijau pun menyala, Ardi melajukan motornya ke arah tempat tinggal Nisa.

Motornya berhenti tepat di depan pagar rumah Nisa. Nisa mencopot helmnya dan mengucapkan terima kasih kepada Ardi. "Mampir dulu Di?"

"Hmm .. ngga Nis, kapan-kapan aja. Oh iya Nis besok aku jemput lagi ya."
"Ga usah Di, nanti malah merepotkan. Aku bisa sendiri ko."
"Ngga ko Nis, aku malah seneng kalau ada temen ngobrol di perjalanan." Padahal ini cuma alibi Ardi agar bisa dekat dengan Nisa. Nisa pun menganggukan kepalanya dan berkata "Hati-hati ya Di."

***
Hampir setiap hari mereka pergi dan pulang bareng. Fika senang melihat sahabatnya yang sudah kembali ceria lagi. Nisa merasa nyaman berada dekat Ardi. Lambat laun Nisa sudah mulai bisa merelakan Reno. Sosok Ardi mampu membuat Nisa kembali menemukan warna hidupnya. 

"Kalian udah jadian yah." Tanya Fika yang sedang menyantap sup buahnya.
"Ah ... kamu Fik, mauku sih begitu. Tapi, ngga tahu deh Nisa nya mau apa ngga." Ucap Ardi sambil mentap Nisa yang berada dihadapannya.
Pipi Nisa merah merona, "Kalian ini apa sih? ga jelas." 
Fika mengecengi mereka berdua yang terlihat malu-malu, "Ciecie ... Udah Di tembak aja sekarang, tuh pipi Nisa udah merah kaya apel berarti tandanya dia ... " Belum sempat Fika melanjutkan ucapannya, Nisa sudah terlebih dahulu mencubitnya.
"Aku ngga punya pistol, tapi aku punya bunga." Ardi menyodorkan setangkai mawar putih kepada Nisa. 
"Tak hanya bunga Nis, aku juga punya hati, aku harap kamu mau mengisi hatiku yang sudah lama menanti kehadiran sosok wanita sepertimu."
Nisa pura-pura tidak mengerti maksud dari perkataan yang dilontarkan Ardi untuknya, "Maksudmu Di?"
"Kamu mau jadi pacarku Nis?"
Nisa gemetar, Nisa bingung harus menjawab apa. Hatinya dag dig dug tak karuan. Entah perasaan suka atau malah perasaan takut dikecewakan. Sama halnya saat dia menerima Reno. Nisa diam sejenak.
"Nis, ditanya Ardi tuh. Hayoo mau apa ngga?." Kata Fika
"Eu .. eu .. iya Di aku mau jadi pacar kamu." Jawab Nisa.
Ardi sangat senang mendengar jawaban Nisa. Begitupun sebaliknya, Nisa juga merasa bahagia. Fika pun tak kalah bahagianya karena bisa menyatukan mereka berdua.

***
Hari-hari Nisa dipenuhi kebahagiaan karena Ardi sangat menyayanginya. Dia sering mengingatkan Fika dari hal-hal kecil. Dia begitu perhatian. Dia selalu menjaga Nisa dan selalu berusaha untuk membahagiakannya. Nisa merasa beruntung memilki pacar seperti Ardi. Ardi adalah mahasiswa berprestasi di kampusnya. Nisa belajar banyak hal darinya. 

Drett .. drett ..., ponsel Nisa bergetar. Nisa segera mengambil handphone di meja belajarnya. "Pasti dari Ardi." Pikirnya.
Ketika Nisa membukanya, ternyata sms itu bukan dari Ardi melainkan Reno. Reno kembali menghubungi Nisa. Reno meminta maaf kepadanya. Reno menyuruh Nisa untuk menemuinya nanti sore di sebuah cafe. Nisa kaget, tak percaya setelah sekian lama Reno meninggalkannya, kini Reno menghubunginya kembali. 

Nisa mengabaikan sms Reno. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Dilayar ponsel tertera "Reno Calling ..."
"Halo Nis, sore ini aku tunggu kamu di cafe. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
"Soal apa?bukankah semuanya sudah jelas?kita sudah tak ada hubungan apa pun lagi Ren!"
"Aku ... aku ... ah nanti sore akan ku ceritakan. Pokonya kamu harus datang."
Tuut .... tuut ... Reno langsung mematikannya.

- To be continued -



Aku Harus Bagaimana

Sebut saja namanya Bunga dia mempunyai wajah yang manis, Bunga adalah anak tunggal dari keluarga sederhana, Bunga termasuk  anak pendiam, dia juga tidak seperti anak-anak yang lain yang suka jalan-jalan atau suka mejeng, Dia lebih banyak menghabiskan masa remajanya di rumah untuk belajar dan membantu Orang tuanya berjualan sembako, kebetulan Orang tuanya  membuka usaha warung di samping rumahnya, Sekarang Bunga Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri di Depok, Di Sekolah dia termasuk murid yang pintar walaupun tidak mendapat rangking pertama, dia lebih menyukai pelajaran Multi Media. Waktunya lebih banyak di habiskan dengan belajar dan membantu kedua orang tuanya,  dia tidak pernah memikirkan untuk mencari teman dekat atau pacar, seperti teman-teman yang lain, padahal banyak laki-laki yang suka pada nya tetapi Bunga menolaknya,  Sholat 5 waktu tidak pernah dia tinggalkan, apalagi Puasa Sunnah sering dia kerjakan.


Bunga Terakhir 2

Dua tahun berlalu, kebersamaan mereka semakin dekat. Suatu ketika Reza tidak menjemputnya, dia hanya mengirim sebuah pesan singkat bahwa dia ada kepentingan. Naya pun memutuskan untuk pulang menggunakan taksi.

Setiba di halaman rumahnya, Naya melihat mobil reza terparkir. Naya pun membuka pintu rumahnya. Naya kaget karena ternyata Reza datang bersama kedua orang tuanya. Mereka bermaksud untuk melamar Naya. Naya sama sekali tidak mengira bahwa sahabatnya itu berniat meminangnya. Reza tak pernah mengatakan apa pun sebelumnya.

Reza menghampiri Naya yang masih terbelalak kaget di depan pintu. Dia memberikan setangkai bunga mawar merah kepada Naya.
 “Ini adalah bunga terakhir di akhir tahun yang ku berikan untukmu dan aku berharap kau pun mau jadi yang terakhir dalam hidupku. Menemaniku seumur hidupku. Will you marry me?


Hikmah dari Kejujuran

Sebut saja Fauzan, namanya. Ini adalah nama samaran. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, karena   kisah ini adalah kisah nyata teman saya. Mudah-mudahan cerita ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua.

Fauzan lahir di Jawa Tengah. Dia berasal dari keluarga yang sederhana. Fauzan adalah anak pertama dari  5 besaudara. Ayah dan ibunya adalah seorang petani. Dari kecil Fauzan dididik oleh kedua orang tuanya untuk berbuat jujur kepada siapapun. Orang tuanya menyekolahkannya ke sekolah yang lebih banyak mmengajarkan Agama. Sepulang sekolah Fauzan belajar mengaji dan mendengarkan tausiah dari ustadz.


Bunga Terakhir 1

Jam menunjukan angka 06.30. Gordennya masih tertutup rapat. Begitu juga dengan lampu kamarnya yang gelap. Padahal jam weker disebelahnya sudah sejam yang lalu berbunyi. Dia terlalu asyik di dunia mimpi.
“Reza … ini sudah siang, kau tidak ke kampus?“ terdengar teriakan suara dari balik pintu kamarnya.
Reza terperanjat kaget. Dia mengucek-ngucek mata dan menengok jam disebelahnya yang sudah menunjukan 06.45. Dia pun bergegas mengambil handuk dan masuk kamar mandi.
Dia mengambil tas punggungnya dan buru-buru menuruni tangga. Mencium tangan ibunya. Menaiki motor besarnya dan langsung tancap gas.


Istri dan Suami tidak Sabar

Sudah lama Andi tidak mendapat tugas kerja ke luar kota,  Andi sudah mempunyai istri yang cantik dan Jelita namanya Jesica, memang keduanya masih  baru belajar berumah tangga, karena usia pernikahan mereka baru, kebetulan mereka belum di karunia anak, kehidupan mereka sederhana, tetapi sang suami amat sayang kepada istrinya begitu juga istri nya, mereka sangat mesra kadang-kadang tanpa mereka sadari di depan umum mereka saling bergandengan dan sang suami mencium kening istrinya tanpa menghiraukan di sekitar mereka, tatkala sadar mereka merasa malu dan akhirnya mereka tertawa dalam hati, kalau kita ingat seperti cerita Romio dan Juliet.