Pandangannya tak lepas dari secarik foto ditangannya. Dia teringat sosok pria yang pernah mengisi hari-harinya. Pria yang pernah mengisi hatinya selama 3 tahun. Tapi, kini pria itu berpaling ke lain hati. Perasaan yang dijaga selama 3 tahun ini, musnah begitu saja gara-gara kehadiran seorang wanita. Dia tak menyangka bahwa laki-laki yang dicintainya tega mengkhianati cintanya. Padahal yang dia kenal selama ini, Reno adalah sosok laki-laki yang baik dan begitu menyayanginya. Entah kenapa akhir-akhir ini sikapnya berubah menjadi cuek, dingin, tak seperti biasanya. Lama-lama Nisa tahu penyebab perubahan Reno. Rasti, iya dialah wanita yang menyebabkan Reno berubah.
Saat itu Nisa pergi ke sebuah Mall, tak sengaja dia melihat Reno sedang menemani seorang wanita berambut panjang, berparas cantik. Hatinya hancur berkeping-keping ketika ia melihat Reno pergi bersama wanita lain. Hatinya merasa teriris saat dia membayangkan hal itu. Tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipinya. Ketika dia mengusap air matanya, sesosok wanita datang membuyarkan lamunannya.
"Kamu nangis Nis? Ini foto Reno kan? Masih kamu simpan?", tanya Fika sambil menarik foto dari tangan Nisa.
"Eh, iya Fik. Aku merindukannya."
"Ya ampun Nis, cowo kaya gini masih kamu kangenin? Nisa, kamu tuh amnesia ya, dia itu sering banget nyakitin kamu. Kalau dia sayang sama kamu, dia tuh bakal ngehargain kamu, ga mungkin selingkuh!!"
"Aku tahu Fik, tapi ini masalah perasaan. Hati ngga bisa boong." Air matanya semakin deras membanjiri pipinya.
"Nis, tapi kamu harus pake logikamu. Masih banyak cowo yang lebih baik dari dia." Ucap Fika sambil menyodorkan tisue.
Nisa hanya diam tanpa dan mulai mengalihkan pembicaraan. "Sudah waktunya masuk kelas, ayo Fik nanti keburu Pak Bambang masuk. Kamu tahu kan Pak Bambang itu dosen kita yang super galak, telat satu menit aja dijamin kita ga akan bisa mengikuti mata kuliahnya."
Fika sepertinya sangat mengerti perasaan Nisa yang masih belum bisa melupakan Reno. Fika pun tidak memperpanjang permasalahan. Fika mengiyakan ajakan Nisa. Mereka bergegas keluar kantin menuju kelas.
***
Hatinya berdetak kencang saat ia berpapasan dengan wanita cantik yang disukainya selama bertahun-tahun. Mereka memang saling kenal karena mereka satu fakultas di sebuah perguruan tinggi ternama di kota Bandung. Sejak ia tahu bahwa wanita itu sudah putus dengan kekasihnya, dia sangat senang. Memang tak seharusnya dia senang, tapi dia merasa dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan hati wanita itu. Dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada wanita yang bernama Nisa.
Sepulang kuliah, dia memberanikan diri untuk mengajak Nisa pulang bareng. Belum apa-apa dia sudah nervous, detak jantungnya semakin kencang, keringat dingin bercucuran. Wajar saja karena ini adalah pertama kalinya dia mengajak Nisa untuk pulang bersamanya. Selama ini dia tidak pernah menyapa Nisa duluan. Akhirnya dia pun mencoba mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
"Pulang bareng yuk Nis .." ajak Ardi dengan perasaan canggung.
"Maaf Di, aku pulang bareng sama Fika." Ucapnya sambil tersenyum.
"Eh, kamu pulang duluan aja sama Ardi. Aku ada urusan, jadi aku ga bisa pulang bareng kamu." Samber Fika seolah-olah sengaja ingin menyatukan mereka berdua.
Fika memang sudah tahu bahwa Ardi menyukai Nisa sejak lama. Karena Ardi sering sekali menceritakan soal perasaannya pada Fika. Dia sempat meminta Fika untuk menjadi mak comblang. Tapi, baru kali ini Fika berani menjadi comblang mereka. Waktu itu Nisa masih menjalin hubungan dengan Reno, makanya dia tidak berani menerima permintaan Ardi. Ardi pun sangat paham akan hal ini.
Akhirnya Nisa pun pulang bersama Ardi. Sepanjang jalan mereka banyak bercerita. Terutama Ardi yang terlihat bahagia karena baru pertama kali ini dia bisa berada dekat dengan Nisa. Sepanjang jalan Nisa hanya menjadi pendengar setia, terkadang dia menjawab hanya dengan sekedar kata "Iya" dan "Tidak".
Ardi tahu bahwa Nisa belum bisa melupakan Reno. Tapi, dia akan berusaha agar bisa menggantikan posisi Reno di hatinya. Dia akan berusaha untuk mengambil hati Nisa.
Ardi sepertinya tahu bahwa Nisa tak kuat melihat Reno membonceng wanita lain. Dia pun mencoba mengalihkan pandangan Nisa dengan menunjuk polisi berperut buncit. "Nis, liat deh polisi itu kayanya kalau perutnya ditusuk pake jarum pasti meledak."
"Wuss, kamu di masa perut pak polisi disamain sama balon gas." Ujar Nisa sambil tertawa.
Ardi sangat senang bisa melihat Nisa tertawa. Dia berhasil mengalihkan pandangan Nisa. Lampu hijau pun menyala, Ardi melajukan motornya ke arah tempat tinggal Nisa.
Motornya berhenti tepat di depan pagar rumah Nisa. Nisa mencopot helmnya dan mengucapkan terima kasih kepada Ardi. "Mampir dulu Di?"
"Hmm .. ngga Nis, kapan-kapan aja. Oh iya Nis besok aku jemput lagi ya."
"Ga usah Di, nanti malah merepotkan. Aku bisa sendiri ko."
"Ngga ko Nis, aku malah seneng kalau ada temen ngobrol di perjalanan." Padahal ini cuma alibi Ardi agar bisa dekat dengan Nisa. Nisa pun menganggukan kepalanya dan berkata "Hati-hati ya Di."
***
Hampir setiap hari mereka pergi dan pulang bareng. Fika senang melihat sahabatnya yang sudah kembali ceria lagi. Nisa merasa nyaman berada dekat Ardi. Lambat laun Nisa sudah mulai bisa merelakan Reno. Sosok Ardi mampu membuat Nisa kembali menemukan warna hidupnya.
"Kalian udah jadian yah." Tanya Fika yang sedang menyantap sup buahnya.
"Ah ... kamu Fik, mauku sih begitu. Tapi, ngga tahu deh Nisa nya mau apa ngga." Ucap Ardi sambil mentap Nisa yang berada dihadapannya.
Pipi Nisa merah merona, "Kalian ini apa sih? ga jelas."
Fika mengecengi mereka berdua yang terlihat malu-malu, "Ciecie ... Udah Di tembak aja sekarang, tuh pipi Nisa udah merah kaya apel berarti tandanya dia ... " Belum sempat Fika melanjutkan ucapannya, Nisa sudah terlebih dahulu mencubitnya.
"Aku ngga punya pistol, tapi aku punya bunga." Ardi menyodorkan setangkai mawar putih kepada Nisa.
"Tak hanya bunga Nis, aku juga punya hati, aku harap kamu mau mengisi hatiku yang sudah lama menanti kehadiran sosok wanita sepertimu."
Nisa pura-pura tidak mengerti maksud dari perkataan yang dilontarkan Ardi untuknya, "Maksudmu Di?"
"Kamu mau jadi pacarku Nis?"
Nisa gemetar, Nisa bingung harus menjawab apa. Hatinya dag dig dug tak karuan. Entah perasaan suka atau malah perasaan takut dikecewakan. Sama halnya saat dia menerima Reno. Nisa diam sejenak.
"Nis, ditanya Ardi tuh. Hayoo mau apa ngga?." Kata Fika
"Eu .. eu .. iya Di aku mau jadi pacar kamu." Jawab Nisa.
Ardi sangat senang mendengar jawaban Nisa. Begitupun sebaliknya, Nisa juga merasa bahagia. Fika pun tak kalah bahagianya karena bisa menyatukan mereka berdua.
***
Hari-hari Nisa dipenuhi kebahagiaan karena Ardi sangat menyayanginya. Dia sering mengingatkan Fika dari hal-hal kecil. Dia begitu perhatian. Dia selalu menjaga Nisa dan selalu berusaha untuk membahagiakannya. Nisa merasa beruntung memilki pacar seperti Ardi. Ardi adalah mahasiswa berprestasi di kampusnya. Nisa belajar banyak hal darinya.
Drett .. drett ..., ponsel Nisa bergetar. Nisa segera mengambil handphone di meja belajarnya. "Pasti dari Ardi." Pikirnya.
Ketika Nisa membukanya, ternyata sms itu bukan dari Ardi melainkan Reno. Reno kembali menghubungi Nisa. Reno meminta maaf kepadanya. Reno menyuruh Nisa untuk menemuinya nanti sore di sebuah cafe. Nisa kaget, tak percaya setelah sekian lama Reno meninggalkannya, kini Reno menghubunginya kembali.
Nisa mengabaikan sms Reno. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Dilayar ponsel tertera "Reno Calling ..."
"Halo Nis, sore ini aku tunggu kamu di cafe. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
"Soal apa?bukankah semuanya sudah jelas?kita sudah tak ada hubungan apa pun lagi Ren!"
"Aku ... aku ... ah nanti sore akan ku ceritakan. Pokonya kamu harus datang."
Tuut .... tuut ... Reno langsung mematikannya.
- To be continued -
