Nisa melangkah bolak-balik seperti setrikaan di kamarnya. Nisa sangat bingung, "Haruskah aku menemuinya?" pikirnya dalam hati.
Jam dindingnya sudah menunjukan pukul 16.00. Selama berjam-jam Nisa merenung dan akhirnya Nisa memutuskan untuk menemui Reno tanpa sepengetahuan Ardi. Untungnya saat itu Nisa tidak punya janji dengan Ardi karena Ardi sedang berada di Bogor menengok neneknya yang sakit.
Setibanya di Cafe, Nisa menuju meja nomor 4 karena kata Reno dia sudah memesan meja nomor 4. Nisa melihat sesosok laki-laki berkaos biru dengan celana blue jins. Laki-laki itu sudah tak asing lagi baginya. Gayanya tetap sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Laki-laki itu melihat ke arahnya dan tersenyum.
"Silahkan duduk Nis."
"Makasih, maaf aku terlambat."
"Tidak apa-apa, apa kabar Nis? long time no see."
"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja."
Reno telah memesan minuman Mocacino untuk Nisa. Dia masih ingat minuman kesukaan Nisa. Mereka bercakap-cakap tentang banyak hal. Setelah keadaan mulai hangat, Reno pun menjelaskan alasan dia menduakan Nisa saat itu. Reno terpaksa memilih Rasti, wanita pilihan ibunya. Waktu itu ibu Reno sakit kanker stadium 4, dokter memperkirakan umurnya tak akan panjang. Mau tidak mau Reno terpaksa menuruti permintaan ibunya untuk mendekati Rasti. Sejak awal ibunya memang tidak menyetujui Reno menjalin hubungan dengan Nisa hanya karena Nisa berasal dari keluarga yang sederhana. Sedangkan keluarga Reno adalah turunan ningrat. Sebenarnya Reno sama sekali tidak mencintai Rasti. Tapi, Reno ingin sekali melihat ibunya bahagia di masa-masa kritisnya.
Namun ternyata ibunya telah membohongi Reno, ibunya tidak sakit. Ibunya hanya berpura-pura sakit agar Reno menuruti keinginannya. Reno mengetahui hal itu ketika dia tanpa sengaja mendengar percakapan ibunya dengan dokter gadungan. Tentu saja Reno sangat marah mendengar hal itu. Reno sempat drop saat mengetahui hal itu. Ibunya bingung melihat Reno yang berbaring lemas dan terus mengiggau memanggil-mangil nama Nisa. Ibunya ingin melihat Reno, anak semata wayangnya bahagia. Maka dari itu, Ibunya berjanji jika Reno sehat dia akan merestui hubungannya dengan Nisa. Kini ibunya sadar bahwa Reno lebih bahagia jika bersama Nisa dan kebahagiaan tidak dapat dibeli oleh materi.
Reno meminta Nisa untuk kembali menemani hidupnya. Reno sangat menyayangi Nisa. Air mata Nisa meleleh saat mendengar cerita Reno. Ada penyesalan dalam hatinya, kenapa dia tidak mau mencoba untuk bersabar menunggu Reno. Kini dia sudah mempunyai Ardi. Ardi sudah banyak berkorban untuknya. Kenapa Reno baru datang saat ia sedang menata kebahagiaan bersama Ardi.
"Kenapa kamu baru cerita sekarang Ren?kenapa kamu ngga jujur dari awal?"
"Aku takut kamu sedih."
"Tapi, aku lebih sedih kalau kamu bohong."
"Maafkan aku Nisa, lalu bagaimana mengenai tawaranku?"
"Maaf Ren aku paling ngga suka dibohongi. Seandainya saat itu kamu jujur mungkin aku tak akan meninggalkanmu. Kamu ngga tau kan gimana sakitnya aku saat itu?Sekarang semudah itukah kamu datang dan memintaku untuk kembali?"
"Aku tau aku salah, tapi aku tak mau menyakitimu."
"Ren, lebih baik jujur walaupun itu pahit. Maaf Ren, aku sudah punya laki-laki yang bisa menyangiku apa adanya, bahkan keluarganya pun menerimaku dengan baik."
"Maksudmu kamu sudah punya kekasih?" Tanya Reno, bingung.
"Iya, bahkan minggu depan dia akan datang kerumahku bersama keluarganya untuk melamarku."
Reno kaget mendengar jawaban Nisa. Dia menyesal tidak jujur dari awal kepada Nisa. Hatinya merasa ditusuk-tusuk. Dia pikir Nisa akan setia menantinya, tapi ternyata ketidakpeduliaan Reno terhadap Nisa malah membuat Nisa jatuh hati kepada orang lain. Reno berusaha untuk tegar menghadapi semua ini.
Nisa lebih memilih tetap bersama Ardi. Nisa sadar Ardi lebih baik dari Reno. Ardi mampu mebimbing Nisa menjadi wanita yang lebih dewasa dan bijak. Baginya yang namanya kebohongan sekecil apa pun tetaplah bohong.
- The End -
